DPR (memang) Tidak Aspiratif

Rakyat sedang dilanda kecemasan dan kesusahan. Pemerintah sedang menggerakkan semua kekuatan negara untuk mengatasi wabah pandemi Covid-19. Janganlah DPR malah tidak aspiratif dan tuna-empati.

Selama dua bulan terakhir, masyarakat Indonesia dilanda kecemasan dan ketakutan yang nyaris membuat “putus harapan”. Badai dahsyat yang diakibatkan wabah pandemi virus Corona (Covid-19) telah memporak-porandakan sendi-sendi kesehatan masyarakat di 34 provinsi dan sendi-sendi perekonomian nasional. Hingga hari ini sudah ribuan sektor usaha yang gulung tikar dan jutaan pekerja formal di-PHK dan atau dirumahkan, tanpa menerima gaji lagi. 

Itulah sebabnya, Presiden Joko Widodo telah memutuskan pandemi Covid-19 di Tanah Air sebagai bencana nasional. Dalam suasana memprihatinkan seperti itu, pemerintah telah mengeluarkan stimulus dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 405,1 trilyun, untuk penanggulangan pandemi penyakit Covid-19, bantuan sosial kemanusiaan, dan pemulihan ekonomi nasional yang terpuruk. 

Ini lebih pedih, menguatnya politik tuna-empati justru terjadi di lingkungan DPR, yang nota bene merepresentasikan wakil rakyat.

Namun dalam situasi negara dan masyarakat yang sedih dan prihatin ini, DPR dinilai sangat kurang peduli. Sampai hari Senin (27/4/2020), masih berlangsung rapat dengar pendapat yang membahas RUU Cipta Kerja. Aktivitas DPR selama sebulan terakhir ini, telah menimbukan gelombang kritik dari berbagai elemen masyarakat, para aktivis pro demokrasi, kelompok masyarakat sipil, hingga berbagai media cetak dan elektronik. Meminjam bahasa Azyumardi Azra, aksi para elite politik di parlemen itu sebagai politik tuna-empati. Ini lebih pedih, menguatnya politik tuna-empati justru terjadi di lingkungan DPR, yang nota bene merepresentasikan wakil rakyat. Sementara rakyat sedang pedih dan “terkapar” akibat wabah virus Corona. 

Karena itu, kini seluruh elemen masyarakat politik di Indonesia menghimbau nurani dan sense of crisis anggota DPR agar lebih peduli terhadap penderitaan rakyat. Himbauan ini juga berlaku dan ditujukan kepada partai politik dan fraksi-fraksi di DPR. Sekarang ini saatnya seluruh anggota DPR untuk berbela rasa dengan mendekat ke rakyat sebagai pemegang penuh kedaulatan rakyat. 

Simaklah dan hiburlah hati nurani rakyat yang sedang pedih dan gundah dalam kesusahan hari-hari ini. Cobalah tumbuhkan empati dan buah jauh-jauh politik yang adigang, adigung, dan adiguna. Jika tetap ngotot dan melangkah seperti sekarang, berarti DPR memang tidak aspiratif. (FS Swantoro).

Facebook
Twitter
WhatsApp