Menjinakkan Serigala di Tengah Wabah

Lupus est homo homini. Pemikiran Plautus sekitar 2220 tahun lalu bahwa manusia adalah serigalanya manusia ternyata masih benar. Pantas saja, pada 1651, Hobbes kembali menggaungkannya.

Sungguh. Hingga hari ini, manusia masihlah serigala bagi sesamanya. Tidak semuanya, tentu saja. Tetapi setidaknya jumlah mereka yang memilih menghidupi watak serigala di dalam dirinya itu signifikan banyaknya, dan signifikan pula masalah yang ditimbulkannya. Betapa tidak, ketika umat manusia sedang kebingungan dan berduka karena wabah Covid-19, watak serigala itu justru kembali bermunculan dalam berbagai perwujudannya.

Di bumi Pertiwi pun demikian, watak serigala itu berkeliaran dalam beragam wajah dan perwujudan, kelakuan, dan besaran skalanya, tega menyantap yang lain demi kepentingannya sendiri, dan demi terpuaskan dahaga jahiliyahnya.  

Wajah dan perwujudan itu bisa jadi muncul sebagai penimbun masker dan disinfektan,  bank plecit bagi korban yang terdampak, koruptor anggaran, manipulator pengadaan, penggelap distribusi, penyeleweng kebijakan, broker vaksin, perebut narasi, perebut panggung bicara untuk mendapatkan kredit sebagai pahlawan, buzzer yang mengumbar aneka bunyi-bunyian guna mengubur pesan sebagai bahan untuk mendiskreditkan pemerintah, dan sebagainya.

Mereka ini menjadi batu sandungan yang menyebabkan pekerjaan utama menjadi tak kunjung usai. Satru mungguhing cangklekan atau musuh dalam selimut.

Perbuatan dari mereka yang berwatak serigala ini tentu saja sangat menggangu upaya  pemerintah dan segenap pihak dalam kerja penanggulangan wabah Covid-19. Alih-alih menjadi bagian dari solusi, mereka ini justru menjadi bagian dari permasalahan yang harus segera diselesaikan. Mereka ini menjadi batu sandungan yang menyebabkan pekerjaan utama menjadi tak kunjung usai. Satru mungguhing cangklekan atau musuh dalam selimut. Bukan hanya itu saja, tetapi juga menyebabkan melesetnya fokus kerja, tidak optimalnya pembiayaan, menurunnya tingkat kepercayaan pada pemerintah, tergerogotinya harapan dan optimisme untuk segera pulih, dan sebagainya.

Karenanya, seperti ketika hendak menyelamatkan pokok pohon agar kembali segar, tetap berakar kuat dan mampu kembali berbuah, benalu-benalu yang menggerogoti kehidupannya itu harus segera dilenyapkan sehingga pekerjaan bersama merawat dan mengobati tidaklah menjadi sia-sia. Begitu juga dalam penanganan wabah Covid-19 ini, selain diimplementasikannya protokol dan regulasi-regulasi secara benar dan sinergis,  yang didukung ketaatan dan kedisiplinan masyarakat, sepak terjang manusia-manusia berwatak serigala yang agresif dan provokatif ini mendesak untuk segera diperangi. 
Adalah tugas bersama untuk menjinakkan serigala-serigala itu, mulai dari serigala terdekat yang mungkin masih tertidur atau malu-malu dalam diri kita, berlanjut ke sekeliling dengam berbekal credo baru, bahwa manusia adalah homo homini socius,  manusia adalah kawan bagi manusia lainnya. Kawan yang mau bersolider dan ikhlas terlibat untuk saling meringankan beban sesamanya, dan untuk bersama-sama menumbuhkan harapan di tengah badai Covid-19. (L. Bekti Waluyo)

Facebook
Twitter
WhatsApp