Politik Tanpa Kemanusiaan

Sayangnya, politik dan kemanusiaan bukan dua sisi mata uang. Keduanya berjarak, juga jauh berbeda. Kita hanya menggenggam koinnya dalam mimpi dan dongeng. Di dunia nyata, politik berjalan menjauh dari kemanusiaan.

Kita saksikan politik kehilangan wajah kemanusiaan. Katanya, karena setiap orang tidak dapat memiliki semua yang mereka inginkan, dari sanalah politik ada. Sebab itu, jantung aktivitas politik adalah mengembangkan gagasan-gagasan dan konsep-konsep politik untuk membuat klaim dan mempertahankan kepentingan. Selanjutnya bahasa politik dipahami sebagai ekspresi kepentingan. Wujud ekspresinya bisa sebagai pribadi, kelompok, golongan, agama, ras dan kesukuan, atau sebuah negara. 

Ketika kehendak politik adalah kehendak untuk berkuasa. Maka benar sekali diktum ini, politik adalah urusan siapa mendapat apa, kapan, berapa, dan bagaimana. Inilah politik manusia sehari-hari di dunia nyata kita. Gerak politik menjauh dari keutamaan dan kemanusiaan. Politik yang kehilangan etika dan estetika. Politik yang banal dan dangkal. Namun yang terjadi adalah anomali: mereka menyebut politik itu kotor, tapi di saat yang sama tanpa malu dan takut ramai-ramai menjadi binatang politik terhadap sesamanya.

Gambaran itu begitu kontras: ada mereka yang dari komunitasnya menggerakkan solidaritas warga dengan aksi nyata memberikan bantuan; dan di sebelahnya pada saat yang sama ada mereka yang malah membiakkan kebencian

Politik tanpa kemanusiaan. Gambaran itu makin jelas dalam kondisi krisis dan keadaan darurat. Kita menyaksikan sendiri di sekitar kita, di negara kita, juga di planet ini, ketika pandemi covid-19 mewabah di lingkungan kita. Gambaran itu begitu kontras: ada mereka yang dari komunitasnya menggerakkan solidaritas warga dengan aksi nyata memberikan bantuan; dan di sebelahnya pada saat yang sama ada mereka yang malah membiakkan kebencian dan kebohongan atau membangun siasat busuk untuk mendulang keuntungan besar dari kondisi kedaruratan bencana sekarang ini. 

Karena itu jangan heran dengan kemunculan serigala-serigala seperti itu di panggung politik dan ruang-ruang media. Rakyat hanya bisa melontarkan kritik keras kepada DPR yang dikatakan tuna-empati dan tidak aspiratif karena tetap ngotot dengan agenda kerja politik yang tidak relevan dengan fokus bersama penanganan corona. Masyarakat dibuat kesal dengan sengkarutnya data penyaluran bantuan pengaman sosial yang dilakukan pemerintah secara berlapis dari pusat sampai daerah. Kita bisa saja memaki dengan kasus bantuan sosial yang ditungganggi sponsor politik untuk kepentingan pilkada. Lalu bagaimana publik mengawasi gelontoran dana ratusan triliun rupiah dari realokasi APBN dan APBD untuk penanganan covid-19 ini. Dari sisi warga, penerapan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) di beberapa daerah, ada mereka yang sukarela berdisiplin diam di rumah saja, tapi masih juga banyak warga yang dengan seenaknya sengaja melanggar aturan pembatasan sosial. Inilah wajah politik dari cermin kemanusiaan!

Sekarang ini saatnya kita mengembangkan politik yang mengabdi kemanusiaan. Politik yang mau merangkul sesama warga dalam solidaritas kemanusiaan, bukan melulu demi kepentingan. Politik yang kukuh memperjuangkan kebaikan bersama demi kemanusiaan. Dari sana kita bisa mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab untuk Indonesia dan dunia. (Ari Nurcahyo)

Facebook
Twitter
WhatsApp