Di Mana Gerangan Partai Politik

Pagebluk Corona yang terus memakan korban jiwa dan diprediksi belum sampai ke puncaknya. Dalam situasi mencekam ini, di mana gerangan partai politik berada? Adakah partai-partai politik itu sembunyi bak ditelan bumi?

Sampai awal Mei 2020, dalam waktu 15 hari, terdapat penambahan 114 kabupaten/kota yang melaporkan adanya pasien positif Corona. Data per 3 Mei 2020, jumlah pasien yang dinyatakan positif sudah lebih dari 10 ribu orang, yang meninggal sudah mendekati 1.000 orang, yang sembuh lebih dari 1.599 orang, dan masih banyak sekali yang status PDP, ODP, dan OTG. Semua itu mengganbarkan betapa masifnya penyebaran virus corona di seluruh provinsi di tanah air. 

Nyaris semenjak dimumumkan oleh Presiden Jokowi, kasus pertama positif virus Corona pada 2 Maret 2020, pagebluk wabah virus Corona semakin membuat miris dan ketakutan masyarakat luas di Indonesia. Tak terkecuali kondisi dan situasi ekonomi yang “porak poranda” dan tidak menentu, yang sebelumnya sudah digerogoti disrupsi digital. 

Pengangguran terbuka akibat banyak buruh dan tenaga kerja yang di-PHK atau dirumahkan tanpa gaji sudah bertambah hampir dua juta orang. Sementara perusahaan yang tutup dan gulung tikar sudah sekitar tiga ribu tempat usaha. Dunia pariwisata berikut usaha turunannya seperti hotel, restoran, pusat kuliner, dan jasa transportasi sudah banyak yang tutup dan gukung tikar. Jumlah orang miskin sudah melambung lebih dari 30 juta orang. Sementara itu, ketika perangkat hukum belum siap membingkainya dan masih terlihat buram hingga kini, pagebluk Corona telah memporak porandakan ekonomi dan kehidupan sosial (Kompas, 3 Mei 2020).

Sementara, dalam situasi mencekam akibat merebaknya virus Corona di tanah air, pertanyaannya adalah: di mana gerangan partai politik berada? Padahal ketika pesta demokrasi berlangsung, entah pemilihan umum anggota legislatif dan Pilpres atau Pilkada, serta event politik lainnya, partai kelihatan “gagah perkasa”. Hadir dari pusat hingga daerah-daerah, hingga di desa-desa. Partai politik dengan pimpinan dan juga para kadernya menghiasi berbagai halaman media cetak dan elektronik, hingga media-media sosial. 

Seperti biasanya, mereka menebar janji-janji surga, memberi harapan akan masa depan negara-bangsa. Tetapi, dalam situasi pagebluk wabah Corona seperti sekarang ini, mengapa partai-partai politik sembunyi bak ditelan bumi. Nyaris semua ketua umum partai atau tokoh dan elite partai diam seribu bahasa, terkait bencana nasional ini. 

Padahal, partai politik punya peran dan fungsi sungguh mulia. Seperti melakukan komunikasi politik. Kenapa fungsi ini tidak dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan publik, agar mereka tenang dan tidak panik menghadapi pagebluk ini?

Padahal, partai politik punya peran dan fungsi sungguh mulia. Seperti melakukan komunikasi politik. Kenapa fungsi ini tidak dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan publik, agar mereka tenang dan tidak panik menghadapi pagebluk ini? Selain itu, partai juga bisa menggalang dana publik, untuk meringankan penderitaan rakyat, membantu para tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanggulangan dan penyembuhan pasien Corona. Atau melakukan agregasi dan artikulasi kepada masyarakat, dalam rangka nendengarkan keluhan publik, misalkan mereka yang belum mendapat bantuan sosial bisa diperjuangkan agar memperoleh bantuan. 

Selagi masyarakat, para aktivis, kelompok agama, dan pengusaha bahu-membahu turun tangan ikut meringankan beban warga masyarakat yang nenderita, kenapa partai diam seribu bahasa? Rakyat dan masyarakat akar rumput, nyaris tak merasakan keberadaan partai dalam konteks pagebluk wabah Corona ini. Lalu di mana eksistensi mereka dan timbal baliknya membantu rakyat di saat sulit dan menderita? Ibarat hanya mau nangkanya, tapi ogah terkena pulutnya. (FS Swantoro)

Facebook
Twitter
WhatsApp