Dunia yang Retak

Pageblug telah terjadi tanpa didahului tanda lintang kemukus di langit. Atau mungkin saja ada, namun tak seorangpun melihatnya, karena hari-hari ini banyak mata sudah begitu tersilaukan gemerlap dunia.

Gara-gara pageblug (wabah, pandemik) itu, sudah sebulan lebih kita harus berkegiatan di rumah saja, entah itu bekerja dari rumah, belajar dari rumah, ceramah dari rumah, jualan, makelaran,masak memasak di rumah, hibernasi, berkepompong, atau apapun. Ya, demi memutus mata rantai penyebaran virus Corona, pemerintah mengeluarkan kebijakan physical distancing untuk membatasi pergerakan sosial warganya. Ini berarti kebebasan tubuh kita diintervensi, dan kita mengamininya. Tetapi sekarang pertanyaannya adalah: sampai kapan? Sampai kapan pageblug itu akan berakhir? Dan sampai kapan kita akan mampu bertahan? 

Untuk pertanyaan yang pertama, ada banyak versi tentang sampai kapan pageblug ini akan berakhir. Prediksi paling umum adalah bulan Juni atau Juli. Namun yang cukup mengusik adalah publikasi dari Singapore University of Technology and Design (SUTD) baru-baru ini, dari yang semula memprediksi pageblug Corona di Indonesia akan selesai pada 6 Juni, ternyata kemudian bergeser cukup jauh hingga 23 September. Mengapa harus bergeser?

Seperti halnya tentang virus Corona itu sendiri, persepsi dan tanggapan warga atas pergeseran prediksi itu pun beragam. Ada yang berpikir pergeseran itu sangat masuk akal, jika masih saja ada banyak orang yang bersikap ngeyel atau bandel, tidak mentaati physical distancing, termasuk melanggar kebijakan tentang larangan mudik. Tetapi ada pula yang menganggap prediksi itu mengada-ada, atau bahkan menuduh adanya agenda tersembunyi di sana. Dan dari sedemikian banyak kepala, masih ada juga yang kemudian justru sibuk mencari-cari kambing hitam, meneruskan kebiasaan lamanya ketika hari-hari masih berjalan normal. 

Dalam menyikapi aturan physical distancing dan kebijakan untuk berkegiatan di rumah saja, persepsi dan tanggapan setiap orang  berbeda-beda, sesuai dengan keterikatan masing-masing pada dunianya yang kemudian menjadi struktur dasar untuk memilih.

Merenungkan semua itu, rasanya benar kata Heidegger, bahwa pada dasarnya, manusia-manusia hari ini sudah terikat dengan dunia kesehariannya. Dalam menyikapi aturan physical distancing dan kebijakan untuk berkegiatan di rumah saja, persepsi dan tanggapan setiap orang  berbeda-beda, sesuai dengan keterikatan masing-masing pada dunianya yang kemudian menjadi struktur dasar untuk memilih. 

Karenanya, tak heran jika kemudian ada orang yang berpendidikan tinggi tiba-tiba marah tak terkendali setelah ditegur petugas di lapangan karena tidak memakai masker. Tak melongo juga ketika melihat pasangan muda suami-isteri memanfaatkan situasi yang mencemaskan ini untuk menimbun barang-barang kebutuhan dan lalu menjualnya lagi dengan margin yang tinggi. Juga tak takjub melihat absurdnya orang-orang yang nekad mudik sampai menyembunyikan diri dalam timbunan sayuran dan masuk kardus besar di dalam kontainer truk, tanpa peduli pada risiko-risikonya, entah risiko di jalan ataupun risiko menularkan virus ke teman-teman dan kerabat di kampung. 

Ah, tapi apa mau dikata? Kita, manusia-manusia zaman ini, memang sudah terlalu melekat pada eksistensi, dan tidak lagi pada esensi. 

Mendamaikan Manusia dengan Dunianya yang Retak
Dunia hari ini adalah dunia yang retak, meminjam istilah Gabriel Marcel: A Broken World. Dunia retak yang di dalamnya manusia hidup. Dunia retak yang dibentuk oleh manusia-manusia, dan sekaligus juga membentuk mereka. Semestinya, keadaan retaknya dunia ini tidak didiamkan saja, tetapi dibawa masuk dalam kesadaran, sehingga kesadaran itu juga yang kemudian bisa membukakan kesempatan bagi manusia untuk kembali melakukan berbagai tindakan reflektif. Bahwa dunia retak hari ini, di mana pergerakan sosial kita serba dibatasi saat wabah pandemi ini, sebenarnya terbentuk oleh masing-masing dari kita dengan segala keterikatan kita pada dunia sebelumnya, dan untuk selanjutnya gantian dunia retak ini yang akan membentuk kita.

Dengan menghadirkannya dalam kesadaran, harapannya, kemampuan kita untuk berefleksi – yang menurut Marcel kian menumpul karena meningkatnya peran dan pengaruh teknologi atas kehidupan – bisa sedikit demi sedikit terpulihkan. Harapannya, dari kegiatan refleksi ini akan kembali terbangun jembatan yang saling menghubungkan antara eksistensi dan esensi, bukan untuk berebut yang mana yang harus didahulukan, namun untuk sejenak mengembalikan narasi keseimbangan.

Dari sini, dengan bekal kesadaran dan kemauan untuk berefleksi, rasa-rasanya perjalanan ke depan akan mulai lebih menjanjikan dan kaya warna, karena dari buah-buah kesadaran dan refleksi itu akan bertunaskan keikhlasan, solidaritas, semangat kebersamaan, dan kasih sayang.

Sebagai bagian dari refleksi, ada baiknya juga kita belajar dari Tarrou, karakter yang dibangun Albert Camus melalui karyanya dalam novel yang berjudul La Peste (Sampar). Bahwa di tengah pageblug sampar atau pes di Kota Oran, di mana nyawa orang nampak begitu lemah dan murah, yang dalam narasi pageblug di Jawa akan digambarkan sebagai fenomena esuk lara, sore mati dan bengi lara, esuk mati (pagi sakit, sorenya mati, dan jika malam sakit, paginya mati), orang bisa saja merasa tak lagi berguna, hidupnya sia-sia, atau merasa kesepian dan terbuang. Sementara, dalam kondisi seperti itu, seseorang pun akan sangat mudah untuk menjadi bagian dari wabah itu dan lalu menularkannya pada yang lain. Tetapi tokoh Tarrou menolak untuk menjadi bagian dari wabah, tidak menyerah, tidak putus asa, tidak merengek-rengek cengeng dan tidak pula waktunya dihabiskan untuk menyalahkan orang lain. 

Di tengah pageblug itu, dia memutuskan untuk melakukan tindakan moral, dengan sebisa mungkin tidak menjadi bagian dari wabah itu, dan dengan membantu sesama meskipun dia tahu bahwa dalam situasi absurd seperti ini dia pun tak bisa terlalu banyak berharap. Lakukan saja apa yang nyata dan bisa dilakukan, karena dalam pageblug, keberpihakan dan keterlibatanlah yang dibutuhkan.
Jika pun kita meminjam La Paste sebagai alegori untuk ngerinya tindak korupsi hari ini, bahkan ketika ternyata itu terjadi di tengah wabah virus yang sebenarnya sekalipun, sikap dan pesan Tarrou tetap sangatlah layak untuk ditularkan, yakni untuk menolak menjadi bagian dari ‘wabah’ korupsi itu, dan memilih untuk terlibat menjadi penyembuh. Demikianlah, dengan berbekal kesadaran dan melalui refleksi, jawaban atas pertanyaan kedua tentang sampai kapan kita bisa bertahan pun sebenarnya tak lagi berdiam pada kata-kata. (L. Bekti Waluyo)

Facebook
Twitter
WhatsApp