Konflik Internal Ditubuh PAN

Hanafi Rais yang adalah putra pendiri Partai Amanat Nadional (PAN) mengundurkan diri dari Ketua Fraksi PAN, anggota DPR-RI, dan pengurus DPP-PAN. Setelah Handai Aris, menyusul M. Asri Abas keluar dari PAN dan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PAN, Sulawesi Barat. Perpecahan dan konflik internal yang semakin kuat di tubuh PAN ini, disinyalir sebagai kelanjutan dari perseteruan saat peleburan kursi Ketua Umum PAN dalam Kongres Ke V PAN, di Kendari, Februari 2020 lalu (Kompas, 8/5/2020)

Konflik-internal-di-tubuh-PAN

Bahkan ada tesis yang mengatakan bahwa sejarah politik di Indonesia adalah sejarah konflik, tak terkecuali konflik di internal partai-partai politik. Yang menjadi pertanyaannya, apakah konflik di internal PAN ini akan terus berlanjut, hingga lahir partai baru? Pertanyaan tunggal ini layak diajukan untuk sekaligus dijawab.

Irisan Partai Politik
Sudah jamak terjadi di republij ini, lahir partai baru, sebagai irisan partai lama atau partai induk. Yang diutarakan di bawah ini hanyalah contoh untuk menjawab pertanyaan di atas. 

Barangkali yang paling awal adalah yang menimpa Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Seperti kita ketahui, perpecahan atau konflik internal di tubuh PDI, akhirnya melahirkan PDIP November 1998 dalam Konggres di Semarang. Waktu itu terpilih sebagai Ketua Umum adalah Megawati Soekarnoputri. Meski ada tesis yang mengatakan bahwa perseteruan di internal partai Banteng itu, sengaja dibuat oleh aparat pemerintah, akibat dosa Soerjadi menyatakan perlunya pembatasan masa jabatan Presiden dalam kampanye Pemilu 1992. Selain itu, Soerjadi ingin mencalonkan Guruh Soekarnoputra sebagai kabdidat presiden. Sejak itu, PDI menemui banyak nadalah hingga lahir irisannya, yakni PDIP.

Dalam perjalanannya, PDIP juga tidak mulus melenggang, karena justru teman dekat Megawati yakni Prof. Dimiyati Hartono mendirikan PITA. Tak lama kemudian, muncul lagi irisan baru yakni PNBK di bawah pimpinan Eros Djarot, teman seperjuangan Megawati. Kemudian muncul lagi irisan baru yakni, PDP,  dibawah kendali Laksamana Sukardi, Roy BB Yanis, dan Sukowaluyo Mintohardjo. Ketiganya juga kawan seperjuangan Megawati ketika mendirikan PDIP. 

Tidak hanya menyangkut partai banteng. Nasib yang sama juga terjadi di tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang usianya sama dengan PDI, waktu Fusi partai, 1973. Irisan dari PPP, yang pertama kali adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang diawali perseteruan atau konflik antara Matori Abdul Djalil vs Hamzah Haz dkk. Kemudian nuncul lagi irisan baru, yakni Partai Benteng Refornasi (PBR) di bawah pimpinan KH Zainuddin MZ. 

Semua partai irisan itu ada yang masih eksis sampai sekarang seperti PKB yang madih eksis sampai sekarang, tetapi lebih banyak yang hanya hidup semusim, seperti PNBK, PITA, PDP, PBR dan sebagainya. 

Justru yang paling banyak irisannya adalah Golkar, yang sejak akhir 1999 menjadi Partai Golkar di bawah Ketua Umum, Akbar Tandjung dalam Munaslub November 1999. Irisan pertama yang muncul adalah PKPI di bawah pimpinan Eddi Sudrajat, yang dikalahkan Akbar dalam Munaslub tersebut. Kemudian muncuk lagi irisan baru Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) di bawah pimpinan R. Hartono mantan KSAD era Orde Baru, dan banyak didukung Keluarga Cendana. Kemudian muncul irisan partai baru lagj, yaitu PartI Hanura, di bawah kendali Wiranto. Lalu muncul lagi irisan Partai Golkar yang lain, yakni Partai Demokrat yang dibidani Susilo Bambang Yudhoyono. Kemudian Partai Gerindra di bawah pimpinan Prabowo Subianto, ysng kini menjabat Meteri Pdrtahanan dan Keamanan Kabinet Indonesia Maju. Dan, terakhir adalah Partai NasDem, dibawah pimpinan Surya Paloh. Tentang yang terakhif ini, awaknya karena kontestasi Partai Beringin dalam Munas Partai Golkar, antara Aburisal Bakrie vs Surya Paloh. Di atas kertas waktu itu Surya menang atas Ical (panggilan akrab Aburisal Bakrie). Karena Surya kalah, akhirnya bikin partai NasDem. Ini mirip seperti ketika Eddi Sudrajat dikalahkan Akbar dalam Nunaslub Golkar. Di atad kertas Eddi menang. Tetapi dalam voting ternyata Akbar yang menang, kenudian membuat Partai Keadilan dan Pembangunan Indonesia. 

Dari seluruh cerita tentang perpecahan partai-partai politik di atas, akankah PAN juga mengalami nasib yang sama?

Dari seluruh cerita tentang perpecahan partai-partai politik di atas, akankah PAN juga mengalami nasib yang sama? ada kabar burung yang mengatakan bahwa Amien Rais akan mendirikan partai baru. Jika kabar ini benar, sudah dapat diterka, bahwa Hanafi Rais akan menjadi nahkodanya. Itulah sebabnya, ia nengundurkan diri dari mepengurusan DPP PAN, berikut dari Ketua Fraksi PAN di DPR dan sekaligus dari anggota DPR RI. Karena itu, tesis di atas benar dan masih berlaku bahwa sejarah politik di Indonesia adalah sejarah konflik. Sampai kapan? Walahualam bilsawab (FS Swantoro)

Facebook
Twitter
WhatsApp