Normal Baru VS Komunikasi “Grasa-Grusu”

Ajakan Pemerintah untuk bersiap-siap menapaki normal baru sangatlah positif, dan bisa dipastikan itu akan diterima dengan baik oleh semua kalangan asal saja komunikasi kebijakannya dilakukan secara matang dan tidak “grusa-grusu”.

Pagebluk Covid-19 telah memaksa kita keluar dari kehidupan normal yang biasanya kita jalani, dan kini, setelah berbulan-bulan menjalankan physical-distancing dengan berkegiatan di rumah saja, kita diajak untuk bersiap-siap menjalani apa yang disebut the new normal, atau normal baru.   Setelah pagebluk Covid-19 menyebabkan krisis kesehatan, memicu krisis produksi di ranah ekonomi, dan juga mengganggu proses reproduksi sosial, ajakan untuk bersiap menapaki normal baru mampu menjanjikan harapan dan optimisme bagi semua kalangan untuk segera kembali memutar roda kehidupan dan penghidupannya.

Seruan untuk bersiap-siap menjalani normal baru yang muncul di saat sebagaian masyarakat berada di antara rasa jenuh dan keinginan untuk tetap patuh, dan di antara kebutuhan untuk kembali produktif serta keinginan agar tetap aman dan sehat, perlu untuk diberikan waktu  untuk dikomunikasikan dan disosialisaskan secara benar, dan juga diberikan ruang untuk saling didiskusikan, dimengerti, direfleksikan dan dipahami. Pentingnya adalah agar kebijakan itu bisa menjadi agenda bersama sehinga, secara sosiologis, setidaknya hadirnya bisa menengahi polaritas antara narasi sosiologis makro-struktur dan mikro-struktur, tentang apakah yang dirumuskan sebagai normal baru ini datang dari struktur, ataukah lahir dari keputusan kesadaran masyarakat.

Hindari Komunikasi yang Grasa-Grusu
Kunjungan Presiden JokoWidodo ke Summrecon Mal, Bekasi pada hari Selasa siang (26/5) lalu, cukup mengagetkan. Mengapa mengagetkan? Karena secara simbolis kunjungan itu seolah menguatkan kecurigaan atas lebih besarnya keberpihakan pemerintah pada kaum kapital seperti yang banyak dituduhkan di postingan-postingan medsos, ketimbang kepada masyarakat, termasuk mereka yang mengaku sudah sangat rindu untuk bisa kembali berdoa di tempat-tempat ibadah. Sampai-sampai, politisi Fadli Zon menjuluki Presiden Jokowi sebagai Duta Mal Indonesia.  

Dalam kata lain, secara sosiologis, kunjungan Presiden Jokowi yang tiba-tiba itu menguatkan persepsi bahwa kebijakan untuk menjalan normal baru memang merupakan bagian dari desain yang sudah diatur oleh struktur, yang dalam hal ini adalah kaum kapital atau pemilik modal yang menghegemoni dunia.

Karenanya, sebagaimana sebagian orang menduga-duga, kaum pemilik modal menghendaki agar roda perekonomian harus segera berjalan, maka pemerintah negara-negara di dunia, termasuk di Indonesia, didesak untuk segera menjalankan kebijakan normal baru itu.

Dalam penalaran ini, bisa diduga bahwa kapitaslime yang hidupnya didasarkan pada interaksi sosial dan faktor produksi sudah benar-benar terpukul hingga babak belur karena para pekerja harus berada di rumah dan menjaga jarak sosial mereka. Merujuk pada catatan ILO, misalnya, fakta bahwa pagebluk covid-19 ini telah menyebabkan sekitar 195 juta orang kehilangan pekerjaannya sudah pasti sangatlah memukul sendi-sendi anatomi industri. Karenanya, sebagaimana sebagian orang menduga-duga, kaum pemilik modal menghendaki agar roda perekonomian harus segera berjalan, maka pemerintah negara-negara di dunia, termasuk di Indonesia, didesak untuk segera menjalankan kebijakan normal baru itu.

Untung saja pada hari berikutnya, melalui kementerian Agama, pemerintah juga mengumumkan akan segera diterbitkannya aturan pembukaan rumah ibadah dengan prosedur normal baru dalam pekan ini, dan begitu juga untuk dunia pendidikan, di mana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga sedang mempersiapkan sejumlah skenario terkait tahun ajaran baru 2020/2021 yang akan dimulai pada pertengahan Juli mendatang. Langkah di atas telah cukup membantu terciptanya narasi bahwa pemerintah tidaklah ‘mban sinde, mban siladan’, atau berat sebelah dalam menjalankan kebijakan, namun telah selalu berupaya untuk berlaku adil. Dengan demikian, ini membuka lebar ruang persepsi bahwa agenda untuk segera menapaki normal baru ini juga lahir dari rahim masyarakat,  dari mikro-struktur,  sampai kemudian menjadi agenda strategis yang harus didukung bersama-sama. (Bekti Waluyo)

Facebook
Twitter
WhatsApp